Pedati Gede Pekalangan Cirebon


Tersembunyi dibalik pemukiman padat kampung Pekalangan Cirebon tersebutlah salah satu peninggalan kuno yang telah berumur 700 tahun.  Pedati tua yang kini teronggok disebuah bangunan seluas 300 meter persegi ini merupakan salah satu saksi penyebaran agama Islam di pesisir Cirebon.
Pedati Gede Pekalangan, itulah nama dari pedati yang bisa jadi merupakan pedati atau kereta terbesar hingga saat ini di Indonesia bahkan bisa jadi di dunia. Tidak hanya besarnya ukuran yang membuat pedati ini begitu istimewa tapi juga teknologi yang terdapat dalam kereta itu dinilai oleh banyak pengamat sebagai kereta yang melampaui teknologi zamannya. Teknologi itu bisa dilihat dari terdapatnya semacam as terbuat dari kayu bulat berdiameter 15 cm yang menghubungkan antar roda melalui poros yang ada di tiap-tiap roda tersebut dengan pelumas dari getah pohon damar di tiap pertemuan antara roda tersebut dengan poros agar disamping pertemuan antara as dan porosnya tetap lancar juga membuat as tidak cepat aus.
Pedati ini memang mempunyai ukuran raksasa…….. panjang 8,6m lebar 2,6m dan tinggi 2,5m dan mempunyai 12 roda. Sayang, saat ini tinggal tersisa 8 roda, enam roda berdiameter 2m dan dua roda berdiameter 1,5m…… 4 roda lainnya musnah terbakar dalam kebakaran tahun 1931.
Konstruksi pedati ini terbilang maju pada jamannya, dimana ukurannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan karena sudah memakai sistem knocked down (bongkar pasang) layaknya kereta api hingga jika pada saat itu yang diangkut tak cukup hanya dengan menggunakan pedati ini maka digunakan pedati-pedati lainnya dengan cara mencangkolkan pedati tambahan itu dibelakangnya dan ditarik dengan tenaga kerbau bule yang diyakini memiliki tenaga di atas rata-rata kerbau biasa pada umumnya.
Bahan dasar pedati ini adalah kayu cendana dan kayu jati. Fungsi utama pedati ini adalah sebagai pengangkut barang. Bahkan pada jaman Sunan Gunung Jati saat bertahta sebagai Raja Cirebon pertama (1478 – 1568), pedati ini berfungsi membawa material bangunan untuk Kraton Pakungwati dan Masjid Sang Cipta Rasa.


Berdasarkan catatan dan dipercaya oleh beberapa ahli dibuat pada tahun 1371 ketika Cirebon masih berbentuk katumenggungan dan dipimpin oleh Pangeran Cakrabuwana. Dan pedati ini masih tetap digunakan hingga jaman kesultanan Sunan Gunung Jati di abad ke-15. Salah satu peran penting pedati ini adalah ketika pembangunan Masjid Agung Sang Ciptarasa tahun 1480 sebagai alat angkut bangunan dan juga sebagai alat transfortasi ketika menginfasi Sakiawarman yang bersembunyi di desa Girinata (kini wilayah Palimanan). Sakiawarman merupakan adik kandung Prabu Purnawarman yang merupakan Kerajaan Tarumanegara di daerah Cisadane, Bogor, yang memberontak kepada kakaknya tapi karena gagal kemudian melarikan diri ke Desa Girinata. Karena Girinata waktu itu merupakan wilayah Kerajaan Indraprasta, maka Purnawarman meminta bantuan kepada Wiryabanyu, Raja Indraprasta untuk menumpas para pemberontak ini. Dan karena Kerajaan Indraprasta dan Kesultanan Cirebon waktu itu bersahabat dengan Kerajaan Tarumanegara maka Kesultanan Cirebon pun ikut mengirimkan pasukannya berikut dengan alat-alat logistiknya menggunakan pedati gede ini untuk kemudian ikut membantu kerajan tersebut menumpas para pemberontak yang bersembunyi di Girinata. Kontur tanah Desa Girinata yang becek dan berbukit-bukit membuat Pasukan Cirebon sangat terbantu dengan adanya pedati gede Pekalangan ini. Disamping itu, tak hanya sebagai alat angkut, postur badan pedati gede ini yang sangat besar dan kokoh pun bisa dijadikan sebagi benteng dikala pasukan musuh menyerang.

Saat ini pedati gede yang sering digunakan untuk acara-acara Keraton Kasepuhan adalah replikanya dan yang asli tetap berada di Pekalangan Kota Cirebon.

Walaupun sudah berusia tua sekitar 700 tahun, pedati ini masih tampak kokoh. Mari kita lestarikan peninggalan sejarah ini.



Sumber : Disporbudpar Kota Cirebon

You Might Also Like

0 komentar